LEBARAN  

Posted by Rabendra Aldi

Dibalik awan tersembunyi matahari
dengan mudah dapat aku sadari
Dibalik senyummu aku tak akan menyadari
luka hati yang tersembunyi hingga kau ungkapkan
Lebaran membawa kita menuju kemenangan
atas hawa nafsu yang kita perangi selama sebulan
mohon sempurnakan dengan memaafkan segala kesalahan

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI

1 SYAWAL 1429 H

تقبل الله منا و منكم, تقبل يا كريم

Puasa terakhir..  

Posted by Rabendra Aldi

Betapa cepat Ramadhan ini berlalu... gk kerasa bgt.. sudah di penghujung puasa... Mudik ke kampung halaman... Yah diperkirakan 25 juta orang Indonesia bergerak secara bersama2 dalam waktu selama 14 hari saja.. wow..big movement.... dan aku satu diantaranya... mungkin skrg tuh orang paling sibuk sedunia tuh ya menteri perhubungan... Anyway... hari-hari ini merupakan hari bahagia bagi MILANISTI se-Dunia.. karena MILAN menang atas INTER MILAN... Hore..hore... senangnya hati ini.. Gol diciptakan oleh Ronaldinho pada menit ke 36.. kerjasama dengan Kaka... wow.. sungguh bulan Ramdhan ini bagaikan sebuah drama bagi tim AC MILAN.. awal puasa tim ini dikalahkan bologna tim promosi gurem... selanjutnya dikalahkan Genoa.. haduh.. untung dengan semangat perubahan.. akhirnya 3 pertandingan di menangkan MILAN dengan puncaknya menggilas INTER....


Mari kita sambut hari kemenangan dengan pakaian terbaik kita
yang berbahan kesabaran, berbenang kesucian
dan berhias keikhlasan

Derby = Harga Diri  

Posted by Rabendra Aldi

Derby! Seberapa penting laga ini dalam perjalanan semusim kompetisi? Johan Cruyff pernah menyindir kebiasaan Barcelona yang nyaris menghabiskan pikiran dan emosinya dalam duel el clasico melawan Real Madrid. Layakkah satu musim kompetisi dikorbankan untuk meraih kepuasan dalam sebuah pertandingan? Tentu sikap ini tak adil bagi mereka yang memilih tertawa di akhir kompetisi. Repotnya, emosi laga bertajuk derby tak semata muncul di lapangan hijau. Selain pengurus klub, kerap kali suporter menjadi pemicu noda. Penyebabnya bermacam-macam, dari persaingan gengsi tim sekota hingga pertarungan keyakinan.
Benarkah derby hanya berlaku untuk duel tim satu daerah? Kita di Tanah Air memang lebih akrab menyebut duel tim sekota sebagai laga derby, seperti AC Milan vs Internazionale, AS Roma vs Lazio, Real Madrid vs Atletico Madrid, Barcelona vs Espanyol, hingga Liverpool vs Everton dan Manchester United vs Manchester City.
Well, pemikiran ini bisa dimentahkan. Tekanan dari berbagai pihak serta peran media massa berandil besar melahirkan berbagai derby. Simaklah kenapa el clasico alias partai klasik di beberapa negara juga berada di panggung derby. Ada berbagai faktor penyebab munculnya rivalitas di kedua kubu.
Sayang, perseteruan abadi kerap diikuti persaingan suporter. Bukan persaingan biasa karena untuk menjaga kebanggaan dan keyakinan yang diwakili klub, mereka rela berjibaku, di dalam dan luar stadion.
Bahkan, akibat efek negatif partai derby yang mencuat tanpa sanggup dikontrol sejak awal, pagelaran rivalitas abadi itu dituding sebagai salah satu penyebab lahirnya holiganisme di sepakbola. Kebrutalan, yang bahkan merenggut nyawa, menjadi noda di sepakbola.
Bagi sekelompok suporter, derby bukan hanya berarti pertandingan, tapi juga menyangkut harga diri dan upaya menjaga agar kepala tetap tegak keluar dari stadion. Keesokan harinya, saat memulai kehidupan, mereka ingin bertemu orang yang mendukung rival klub kesayangan. Karena itu, suporter selalu menuntut kemenangan.
Karena suporter telah memercayakan keyakinan, kebanggaan, hingga harga diri mereka pada para pemain di lapangan, pertandingan derby selalu menyita perhatian, lebih dari laga biasa sepanjang musim.
Bahkan, The Observer berani menyebut duel Boca Juniors dan River Plate di Argentina sebagai pertarungan yang pantas disaksikan pencinta sepakbola di dunia sebelum ajal datang menjemput. Mereka menyebut laga ini sebagai Superclasico!
Akhir pekan ini, dunia sepakbola menggelar sembilan laga derby. Inggris mementaskan Everton vs Liverpool. Dari Spanyol ada Espanyol vs Barcelona, Portugal memainkan Benfica vs Sporting Lisbon, serta tentu saja derby della Madonnina di Italia antara AC Milan vs Inter.
Di belahan Amerika Latin, Brasil memainkan derby pertama sepanjang sejarah sepakbola negara itu. Pertemuan Botafogo vs Fluminense disebut The grandpa Derby. Ada juga The Atletiba dengan aktor utama Coritiba dan Atletico Paranaense. Lalu perseteruan Internacional vs Gremio dijuluki The Gre-Nal.
Rival bebuyutan Brasil, Argentina, juga tak ketinggalan. Estudiantes dan Gimnasia memanggungkan drama berjudul "La Plata Derby".
Partai Derby
Tak Melulu Harus Sekota
Dalam sepakbola, partai berlabel derby pasti ditunggu orang. Duel ini biasanya berlangsung panas karena sarat muatan historis. Bisa jadi akibat lokasi dua kubu yang berdekatan atau latar belakang sektarian, ideologi, dan kelas ekonomi yang berbeda.
Tercatat ada ratusan partai derby di dunia. Setiap negara yang memiliki liga reguler setidaknya punya satu partai derby panas. Bahkan tak jarang sebuah negara mempunyai puluhan pertarungan berskala derby.
Negara-negara di Amerika Selatan, seperti Argentina, Brasil, Cili, dan Uruguay, mengusung tak kurang dari sepuluh derby. Di Asia, Jepang muncul sebagai negara dengan 12 derby. Jumlah ini terbanyak dari kontestan Benua Kuning lainnya.
Bagaimana dengan Eropa? Untuk membahasnya secara mendalam, butuh waktu yang sangat lama. Pasalnya negara semisal Yunani saja memiliki 12 derby. Belum lagi Jerman yang punya 32 partai berstatus derby atau Inggris dengan 92 bentrokan derby mereka.
Banyak? Sangat! Yang pasti akan cukup mengejutkan mengingat selama ini publik cuma mengenal sepersepuluhnya saja. Misalnya Manchester derby antara dua kubu sekota, United versus City, Merseyside derby, yang melibatkan Liverpool dan Everton, atau Arsenal kontra Chelsea di North London derby.
Namun, bisa dipastikan cuma segelintir yang mengetahui keberadaan East Midlands derby antara Nottingham Forest vs Derby County, East Anglian derby alias The Old Farm derby antara Ipswich Town melawan Norwich City, dan laga Portsmouth dan Southampton dalam balutan South Coast derby.
Dari sudut pandang geografis, klub-klub ini tak menghuni satu kota. Meski begitu, publik setempat tetap menyebut pertemuan mereka sebagai derby. Di sinilah kita perlu pemahaman ekstra soal derby. Walaupun tidak berada dalam satu kota atau bahkan dalam satu provinsi atau negara bagian, sebuah laga tetap layak menyandang label derby.
Tekanan yang dialami para pemain, pelatih, pendukung, hingga pemilik klub, dan ditambah bumbu penyedap dari kalangan pers, pada akhirnya menyeret duel yang semula tanpa tajuk khusus menjadi partai berlabel derby.
Imbasnya di Liga Inggris muncul derby of England menyusul duel sengit antara Liverpool versus Man. United. Di Italia ada laga Juventus melawan Internazionale bertajuk derby d'Italia. Di Belanda ada de klassieker yang mempertemukan Ajax Amsterdam dan Feyenoord Rotterdam. Lalu di Spanyol ada el clasico antara Real Madrid kontra Barcelona.
Bahkan rivalitas dua kesebelasan kini tak hanya sebatas yang bernaung di bawah payung sebuah asosiasi. Bentrokan dua negara pun sah untuk disebut sebagai partai derby. Contohnya Iberian derby antara Portugal dan Spanyol atau Football War derby yang disematkan buat laga El Savador melawan Honduras, menyusul perang 100 jam antara kedua negara di tahun 1969 silam.
Lebih dari Sepakbola
Salah satu penyebab derby menjadi pertandingan yang selalu ditunggu-tunggu adalah karena dia tidak lagi sekadar laga sepakbola. Ada isu lain yang ikut melatarbelakangi sejumlah derby top di dunia.
Ada persaingan antara strata masyarakat menengah-atas dan menengah-bawah yang bisa dilihat dalam derby kota terpanas di Spanyol antara Sevilla dan Real Betis. Sevilla mewakili masyarakat kelas atas dan Betis kelas bawah.
Rivalitas antara militer dan polisi rahasia suatu negara juga bisa terjadi dalam beberapa derby. Sebut saja Steaua Bucuresti (klub milik militer) yang bersaing dengan Dinamo Bucuresti (milik Kementerian Dalam Negeri yang membawahi polisi rahasia Rumania). Spartak Moskva dan CSKA Moskva juga masuk dalam kategori ini.
Ada pula derby yang menjadi bayang-bayang persaingan politik. Derby della capitale di Italia melambangkan adu politik antara kelompok sayap kanan (Lazio) dan sayap kiri (Roma).
Derby yang sampai membangkitkan nasionalisme juga tidak sedikit. Duel Al Ahly dan Zamalek di Mesir, yang acap dianggap sebagai derby terbesar di Arab, menjadi perang saudara di mana Al Ahly mewakili nasionalisme Arab dan Zamalek dianggap sebagai legiun asing.
Nasionalisme pula yang membuat Barcelona menggila jika bertemu Real Madrid dalam derby Espana. Barcelona adalah wakil Catalan, yang berjuang menghadapi "penjajahan" pemerintah Spanyol, yang dilambangkan oleh Madrid.
Salah satu latar belakang derby "terparah" barangkali dimiliki oleh Glasgow Celtic dan Glasgow Rangers. Isu persaingan ras dan agama mewarnai duel ini. Celtic adalah pihak Irlandia-Katolik, sedangkan Rangers Skotlandia-Protesta n.
Saat ini isu ras-agama memang sudah tidak terlalu dominan. Tapi, dulu suporter Rangers pernah membakar tiket terusan karena klub membeli pemain Katolik!
Asal-Usul Derby
Tradisi hingga Perang Agama
Di beberapa negara penger-tian local derby adalah pertan-dingan antara dua kubu yang menjadi rival sekota. Amerika Serikat mengenalnya dengan sebutan cross-town rivalry, yang artinya rivalitas antara dua tim di dalam satu kota.
Tapi, tahukah Anda dari mana asal-muasal munculnya kata derby? Ada sejumlah teori tentang hal ini. Sebuah kota di Inggris, Ashbourne, Derbyshire, mengklaim bahwa pertandingan tahunan antara dua penduduk berseberangan di kota itu menginisiasi kata derby.
Namun, ada juga teori yang mengatakan bahwa derby berasal dari ajang pacuan kuda (si kuda harus berusia minimal tiga tahun) The Derby di Inggris. Sang penemu dan penggagas perlombaan pada tahun 1780 itu adalah Earl of Derby Ke-12.
Teori lain lagi mengungkap-kan asal kata derby memang muncul dari kota Derbyshire. Hanya, kata ini hadir melalui pertempuran the traditional Shrovetide football match antara dua sisi kota yang berseberangan. Kota ini terbelah dua, dengan satu tim mengusung Nuns Mill di utara sebagai gawang, sedangkan satu tim lagi memakai Gallows Balk di selatan.
Meski konon sekitar 1.000 pemain untuk satu tim, gol jarang terjadi karena duel sengit banyak mengambil tempat di tengah Sungai Derwent atau daerah Markeaton. Ajang ini menjadi sangat fenomenal karena hampir selalu memakan korban jiwa karena perkelahian secara kontinu.
Entah dari mana asal sesungguhnya, tapi yang jelas pengertian dari kata derby itu sendiri telah meluas ke segala arah. Tolok ukur tak cuma berdasarkan kedekatan lokasi, melainkan sudah terdogma pada rivalitas akibat percikan korek yang semakin membesar menjadi kobaran api.
Para pendukung biasanya mengusung api permusuhan terbesar. Apalagi jika sudah melibatkan barisan suporter ultras. Kendati begitu, di atas lapangan pemain juga kerap mempertunjukan rasa saling benci. Di luar itu semua, tensi di beberapa derby terimbas dari urusan politik dan sektarian alias agama.
Seperti yang terjadi dengan rivalitas abadi Skotlandia bertajuk old firm derby antara dua klub Glasgow, Rangers dan Celtic. Pertemuan rutin empat kali dalam setahun di Liga Premier Skotlandia dilatarbelakangi perbedaan religi, politik, serta kebijakan sosial.
Jika diambil rataan, setiap tahun ada satu korban tewas di Glasgow. Polisi mensinyalir data ini ada kaitannya dengan old firm derby. Terlepas dari permusuhan ini, sisi positifnya, Rangers dan Celtic menjadi dua klub tersukses dengan koleksi gelar terbanyak.
Suporter dalam Derby
Rentan Kerusuhan
Dengan atmosfer derby yang selalu panas, suporter kedua tim yang berlaga sangat rentan menghadapi kerusuhan. Bahkan tidak jarang mereka sendiri yang jadi pemicu aksi anarkistis.
Ambil contoh rivalitas Everton-Liverpool. Dulu derby Merseyside pernah diisi harmoni antara warna biru Everton dan merah Liverpool.
Menyusul Tragedi Hillsborough tahun 1989 yang menewaskan 96 suporter The Reds, rantai syal biru dan merah bisa dilihat sepanjang Stanley Park sebagai dedikasi untuk para korban. Tapi, kini seiring dengan melebarnya kelas prestasi kedua klub, tensi rivalitas suporter Everton dan Liverpool meninggi.
Salah satu rivalitas suporter dalam laga derby yang paling mengkhawatirkan adalah antara River Plate dan Boca Juniors di Argentina. Sebelum dan sesudah pertandingan, banyak kelompok suporter kedua kubu yang memang sudah berniat bertempur.
Suporter Boca menyebut fans River gallinas (ayam) karena mereka menganggap saingannya itu penakut. River membalas dengan memanggil suporter Boca los puercos (babi) karena stadion Boca terletak di daerah yang miskin dan selalu bau seperti kandang babi!
Aksi suporter dalam laga derby terkadang tidak bisa dikendalikan dan mengganggu jalannya pertandingan. Masih ingat bagaimana derby Milano antara Inter dan Milan di Liga Champion 2004/05 dihentikan gara-gara kiper Milan, Dida, dilempar kembang api?
Contoh lain adalah ketika ultras (tifosi garis keras) Roma bisa memaksa menghentikan derby Roma-Lazio tahun 2004 dan memicu kerusuhan besar di luar stadion.
Pada tahun 2005, staf kepelatihan Sevilla dan Real Betis terpancing emosinya dan ikut berkelahi menyusul kejadian pelemparan pelatih Sevilla, Juande Ramos, oleh suporter Real Betis.
Old Firm Derby
Memanas karena Isu Religi
Perebutan status penguasa kota dalam city derbies kerap terjadi dengan didasari persaingan komunitas yang bergesekan di sebuah wilayah padat penduduk. Hal ini bisa dipahami sebagai dinamika manusia sebagai homo ludens alias "manusia yang suka bermain". Beda masalahnya bila faktor agama, yang amat sensitif, sudah ikut dibawa-bawa.
Rangers versus Celtic, misalnya, adalah sebuah manifestasi persaingan warga Glasgow yang menganut Protestan dan Katolik.
Persaingan mereka jelas memiliki akar yang lebih dalam ketimbang local derbies yang membawa rivalitas antargolongan lainnya semodel Madrid kontra Barcelona (di Spanyol), Galatasaray lawan Fernerbahce (Turki), Feyenoord dengan Ajax (Belanda), Panathinaikos versus Olympiakos (Yunani), atau permusuhan Dinamo Zabreb-Hajduk Split (Kroasia).
Secara tradisi, Rangers didukung golongan Protestan di Glasgow, sedangkan Celtic dianggap mengusung bendera kaum Katolik. Pengasosiasian Celtic dengan penganut Katolik juga tidak lepas dari banyaknya pendukung The Bhoys yang berdarah Irlandia, tepatnya Irlandia Utara.
Kondisi ini bertambah rumit karena sempalan pendukung Celtic, yang berbasis politik pro Irlandia, juga terbagi dua lagi menjadi kelompok loyalis dan republikan.
So, tidak mengherankan juga bila sejarah kekerasan antarpendukung Gers dan Bhoys kerap berakhir dengan pertikaian berdarah yang membuat nyawa melayang. Untuk meredam pertikaian yang berawal sejak 1888 dan memanas pada 1912 ini, berbagai jalan telah diambil oleh manajemen kedua kubu.
Proses rekonsiliasi paling ekstrem adalah dengan memperlihatkan adanya penyatuan dua kubu agama dalam sebuah klub. Rangers sempat membeli striker Maurice Johnston, yang beragama Katolik, dari Nantes pada Juli 1989.
Meski Johnston bukan pemain Katolik pertama yang dibeli Rangers, fakta bahwa dirinya sempat bermain di Celtic lima tahun sebelumnya membuat usaha menyatukan duo Glasgow itu kian terasa.
UEFA Turut Belajar
Kedua kubu mau tak mau harus mengakui amat sulit menghapus permusuhan para pendukung yang dilandasi sektarianisme itu.
Lewat diberlakukannya sejumlah peraturan menyangkut larangan menyanyikan lagu-lagu tertentu, pengibaran atribut serta bendera yang tak berkaitan dengan sepakbola, pertumpahan darah dalam derby ini kian berkurang.
Secara total, kedua kubu telah berjumpa 381 kali di ajang Liga Skotlandia, Piala Skotlandia, dan Piala Liga. Dari jumlah itu, 152 dimenangi Rangers, 137 dimenangi Celtic dan sisanya berakhir imbang. Luka yang dibawa dari tiap perseteruan ini kerap berdampak panjang hingga penentuan gelar di akhir musim.
UEFA pun banyak belajar untuk meredam aroma permusuhan yang dikobarkan pendukung tiap kali Gers menjamu klub-klub Spanyol, yang berbasiskan Katolik, di ajang antarklub Eropa. Sepakbola seharusnya semata membawa semangat olahraga tanpa melibatkan masalah SARA, tapi realitas di lapangan berbicara lain.
El Clasico
Rivalitas sejak Awal
Dari awal bergulirnya kompetisi La Liga Spanyol, rivalitas antara Real Madrid dan Barcelona sudah terbentuk dengan sendirinya. Ini karena kedua tim merepresentasikan Castile dan Catalonia, dua wilayah yang memang memiliki unsur kuat dalam sepakbola.
Akan tetapi, seiring berjalan-nya waktu, kadar rivalitas ini kian membengkak ke skala raksasa. Faktor kultur, sosiologi, dan politik seolah memaksa kedua kubu menapaki jalan berlainan.
Madrid pusat pemerintahan Tanah Matador dan rumah keluarga kerajaan. Itu menyebabkan seisi kota seperti terseret ke dalam pemikiran sentralisme. Di sisi lain, ide-ide yang mulai terbentuk pada era modern, semisal republikanisme, federalisme, anarkisme, sindikalisme, dan komunisme, tampak menguat di region Catalonia, terutama Barcelona.
Budaya fesyen baru, dalam bentuk pakaian, rumah mode, filosofi, dan seni, biasanya juga masuk lewat Barcelona, sebelum akhirnya diterima kalangan luas Spanyol. Nah, semasa kepemimpinan Jenderal Francisco Franco, segala rupa identitas kedaerahan dikungkung.
Perang saudara kemudian muncul di medio 1930-an. Sebagai imbas, Josep Sunyol, pengacara, jurnalis, politikus, yang juga menjadi El Presidente Barca, diculik dan dieksekusi tentara Franco sepulangnya dari medan perang. Perselisihan pun kian meruncing. Kata damai hanya diyakini oleh mereka yang gemar berhalusinasi.
Pada dekade 50-an, Madrid dan Barca terlibat perebutan Alfredo Di Stefano, bintang Argentina yang pindah menjadi warga negara Spanyol. Madrid, yang memenangi kontrak atas Di Stefano, berpesta pora menyusul kontribusi optimal sang Argentino, yang menyumbangkan sederet gelar.
Barca, yang berada di kubu kalah, hanya bisa menyimpan dendam. Hingga detik ini, Blaugrana mencoba melampiaskan revans. Tak lagi dalam bentuk perang terbuka, tapi lebih lewat prestasi. Berdasarkan persaingan abadi ini, el clasico dilabeli sebagai duel terpanas sepanjang sejarah sepakbola.
Implikasi sepasang laga itu pada gelar di akhir musim juga menjadi semakin penting. Terbukti pemenang el clasico duel I punya kecenderungan besar menjuarai La Liga musim tersebut.
Derby Fenomenal di Eropa
Korban "Terasa" Wajar
Roma 2004 dan 1979
Kala derby della capitale pada 21 Maret 2004 belum diwarnai gol, beredar rumor seorang anak meninggal tertabrak mobil polisi di luar Olimpico. Atas perintah Presiden Liga, duel dihentikan empat menit memasuki babak kedua. Penghentian itu tak mencegah pertarungan antarsuporter dan antara tifosi dengan polisi huru-hara dengan kobaran api di tribun. Sebanyak 13 orang ditahan, 150 polisi cedera.
Pada 1979, seorang tifoso Lazio, Vincenzo Paparelli, terbunuh suar yang mengenai matanya. Benda itu diletupkan fan Roma dari sisi lain stadion.
Belanda 1997 dan 2005
Pertarungan Ajax dan Feyenoord sering diwarnai kekerasan. Kasus terburuk derby bertajuk de klassieker ini terjadi pada 1997. Seorang pendukung Ajax, Carlo Picornie, dipukul hingga tewas oleh fans rival. KNVB menelurkan kebijakan yang lebih ketat untuk menangkal hooliganism.
Toh pada April 2005 di sekitar De Kuip, keributan serius terhampar lagi dan melibatkan polisi. Hooligan Ajax menghancurkan kereta yang membawa mereka hingga memaksa mereka menunggu laga usai. Fan Feyenoord butuh pelampiasan atas kekalahan timnya. Polisi lalu menayangkan rekaman video kerusuhan di televisi nasional untuk mencari hooligan yang bertanggung jawab.
Yunani 1963
Dua musuh abadi, begitu Olympiakos dan Panathinaikos memberi tajuk perseteruan mereka, bukan tanpa alasan. Benturan hampir pasti terjadi di dalam lapangan maupun luar, terutama sejak Liga Alpha Ethniki digelar pada 1959/60.
Hanya dalam tiga edisi setelah musim perdana, derby ini langsung disorot karena penghentian duel diikuti kerusuhan dan prosesi pembakaran di tengah lapangan oleh pendukung! Proses hukum resmi dilibatkan, tapi tak berhasil memenjarakan seorang suporter pun.
Praha 2008
Duel sesama klub ibu kota Rep. Ceska pada 31 Maret 2008, enam pekan sebelum akhir musim, berakhir 1-1. Petasan, suar, dan objek lain bertebaran di udara. Perang sesungguhnya berlangsung antara suporter garis keras dua klub, Slavia dan Sparta, dengan polisi yang sudah bersiaga dengan peralatan lengkap, bahkan sebelum para hooligan meninggalkan lapangan. Derby Praha terburuk sepanjang sejarah ini menimbulkan kerugian sekitar 30 ribu dolar AS plus dua orang cedera dan 26 orang ditahan pihak keamanan.
Stockholm
Liga Swedia mungkin adalah liga kelas dua di Eropa, tapi kekerasan tetap merasuk, terutama di Stockholm. Dua tahun silam, seorang fan IFK Goteborg ditendangi hingga tewas. Pada 2001, seorang pendukung Hammarby cedera parah setelah diserang dengan palang besi.
Tahun ini, kerusuhan kelas berat terjadi saat AIK menjamu Hammarby. Bom-bom molotov yang belum digunakan ditemukan di sekitar stadion. Insiden ini disebut kekerasan terberat dalam sepakbola Swedia.
Sisilia 2007
Korban jiwa tak selalu datang dari pihak suporter. Filippo Raciti, seorang petugas polisi, meninggal tiga jam setelah dilarikan ke rumah sakit karena wajahnya terkena petasan saat derby Sisilia, Catania kontra Palermo.
Ketika itu, polisi berusia 38 tahun ini berusaha meredakan perkelahian teppisti, hooligan Italia. Bentrokan derby pulau mafia ini juga membuat lebih dari 70 orang luka-luka, kebanyakan dari pihak kepolisian. Raciti adalah orang ke-13 yang kehilangan nyawanya di sekitar stadion dalam calcio Italia.
Beograd 1992
Derby pada 22 Maret 1992 ini tanpa korban jiwa, tapi sangat fenomenal. Dalam keadaan normal, pertemuan kedua tim ibu kota Serbia ini diwarnai berbalas lontaran benda atau umpatan. Hari itu, saat Partizan bertandang ke Crvena Zvezda, suporter kedua klub sudah bertikai sebelum laga dimulai.
Yang unik, semuanya bersatu saat pasukan paramiliter Serbia bersiap dengan komandannya, Arkan, mulai berdiri di tribun dan mengedepankan satu musuh bersama, yakni Kroasia, yang memisahkan diri dari Yugoslavia.
Derby di Amerika Latin
Superclasico Nomor Satu
Pada tahun 2004, The Observer merekomendasikan 50 kegiatan olahraga yang harus ditonton sebelum Anda meninggal. Derby di Buenos Aires antara Boca Juniors melawan River Plate berada di posisi pertama.
Superclasico adalah istilah yang dipakai untuk duel Boca Juniors dan River Plate. Istilah itu berasal dari bahasa Spanyol. Clasico bermakna derby. Kata super digunakan karena dua klub asal ibu kota Argentina itu adalah dua klub terpopuler dan tersukses di Negeri Tango.
Gavin Hamilton, editor majalah World Soccer, menyebut rivalitas antara Boca dan River adalah yang paling panas dalam sepakbola di seluruh Amerika Latin. Orang Latin selalu penuh emosi dan energi serta meriah dalam memberikan dukungan. Yang terbaik dari kondisi demikian selalu ada di superclasico.
Beberapa sumber menyebut 70% dari pendukung sepakbola di Argentina adalah suporter Boca atau River. Kedua klub memang layak didukung karena punya prestasi hebat.
Bersama AC Milan, Boca adalah klub paling banyak meraih trofi internasional, yakni 18 gelar. Los Xeneizes di antaranya tiga kali memenangi Piala Interkontinental dan enam kali menjuarai Copa Libertadores. River tercatat sebagai klub paling sering menjuarai liga domestik, yaitu 33 kali.
Dari La Boca
Boca Juniors dan River Plate sama-sama berasal dari La Boca, wilayah miskin di tepi sungai yang membelah kota Buenos Aires, Rio de la Plata. River berdiri tahun 1901, sedangkan Boca 1905.
Konon, para pendiri Boca memilih warna kebesaran klub berdasarkan bendera di kapal yang berikutnya akan lewat. Karena kapal Swedia yang lewat, Boca memilih biru dan kuning sebagai warna kebesaran. Sementara itu, julukan Los Xeneizes berarti Genoese dalam dialek Genoa. Kota pelabuhan di Italia itu adalah asal dari para pendiri Boca.
Kisah River hampir sama. Dalam pertemuan untuk pendirian klub, seseorang peserta melihat kontainer besar merapat di dermaga dengan tulisan The River Plate.
Tahun 1923, River pindah ke distrik yang lebih makmur, Nunez. Tahun 1930-an, River dijuluki Los Millonarios atau para jutawan setelah melakukan beberapa pembelian pemain dengan harga tinggi.
Sejak saat itu, River dikenal sebagai klub untuk kaum menengah ke atas, sedangkan Boca untuk kelompok pekerja. Dengan sebutan seperti itu, superclasico selalu panas dan sering diwarnai keributan. Tragedi Puerta 12 menjadi yang paling tak terlupakan. Setelah duel di kandang River, Estadio Monumental pada 23 Juni 1969, sebanyak 71 pendukung tewas setelah terlibat kerusuhan di pintu 12.
Rivalitas Chivas dan America di Meksiko
Sejarah Kambing dan Elang
Di Meksiko, publik mengenal salah satu duel panas di belahan bumi Barat, partai clasico de clasicos alias derby di atas semua derby. Pelakonnya, Club Deportivo "Chivas" Guadalajara dan Club America. Dua tim dengan sejarah paten di kompetisi utama Liga Meksiko.
Dari 45 musim bergulirnya kompetisi profesional Meksiko, 21 dikuasai America (10) dan Chivas (11 gelar).
America dimiliki oleh Emilio Azcarraga, si empunya Televisa, jaringan multimedia berbahasa Spanyol terbesar. Ia membuat klub yang didirikan tahun 1916 itu sebagai terkaya di Meksiko. Walau begitu, survei publik pada awal 2008 menunjukkan Chivas masih yang terpopuler, America di posisi kedua.
Chivas teguh memainkan pesepakbola asli Meksiko, suatu kebijakan yang sejak 1908 dilakukan untuk menguatkan rasa nasionalisme warga Meksiko. Ramon Ramirez, Javier Aguirre, dan Claudio Suarez adalah nama paten yang besar bersama klub Guadalajara ini.
Jika Las Chivas berarti The Goats, Sang Kambing, America dijuluki Las Aquilas, The Eagles atau Sang Elang. Sejak lama publik percaya bahwa pertarungan ini adalah laga pemain terbaik Meksiko (Chivas) dengan tim pemain asing terbaik (America).
Hal ini tidak lepas dari keputusan bersejarah Presiden America ketika itu, Emillio Azcarraga Milmo, ayah pemilik klub kini. Pada tahun 1960-an, ia royal menggelontorkan uang untuk membeli pemain asing agar dapat bersaing dengan Chivas, tim terkuat era tersebut.
Langkah itu mempunyai dampak negatif di mata publik Meksiko, yang menganggap tindakan Milmo tidak patriotis dan nasionalis. Sampai kini, banyak pihak yang masih antipati dengan Club America.
Kaitan sejarah itulah yang membuat laga ini lebih dari sekadar pertarungan antar-rival. Ditambah atmosfer Stadion Azteca, kandang America yang bisa menampung 105 ribu orang, dan Estadio Jalisco (Chivas, 72 ribu), lengkaplah resep tontonan akbar masyarakat Meksiko, baik yang berdomisili di negaranya sendiri maupun yang tinggal di Amerika Serikat.
Menghakimi Para Yudas
Ada sejumlah pemain yang mempunyai kesempatan membela dua kubu yang berseberangan dalam laga derby. Sayang, kesempatan tersebut malah menjadi kutukan buat sang pemain.
Cap sebagai pengkhianat selalu disematkan pada pemain-pemain yang berpindah kubu. Pengalaman tak mengenakkan sering dialami para Yudas (diambil dari nama Yudas Iskariot si pengkhianat Yesus Kristus) ini.
Sebagai contoh adalah apa yang dialami Luis Figo, Sol Campbell, Antonios Nikopolidis, dan Niko Kranjcar. Figo bermain untuk Barcelona antara 1995-2000. Di musim panas 2000, Figo pindah ke rival Barca dalam derby el classico, Real Madrid.
Ketika pertama kali kembali ke Camp Nou, suporter Barcelona melempar topeng karet kepala babi ke atas lapangan sebagai bentuk penghinaan pada Figo. Suporter Barcelona juga sempat membuat situs AntiFigo.com, yang khusus berisi hinaan untuk "Yudas Figo". Untungnya, Figo tak terpengaruh. Seperti waktu membela Barcelona, ia juga sukses mengangkat prestasi Madrid.
Campbell pernah menjadi kapten sekaligus pemain pujaan suporter Tottenham Hotspur. Pada 2001, ia bermaksud pergi karena ingin bermain di Liga Champion. Alih-alih bergabung ke klub-klub top di luar Inggris, Campbell malah pindah ke rival Spurs dalam derby London Utara, Arsenal.
Suporter Spurs sangat marah karena Campbell pernah berucap tidak akan pernah memakai baju Arsenal. Ketika Campbell pertama kali kembali ke White Hart Lane, ejekan "Yudas" terdengar di seantero stadion. Suporter Spurs juga melempari Campbell serta bus tim Arsenal.
Nikopolidis- Kranjcar
Lain lagi apa yang dialami Nikopolidis. Kiper Yunani saat menjuarai Euro 2004 ini pernah 15 tahun memperkuat Panathinaikos. Ia menjadi pujaan suporter, tapi semua berubah pada musim 2003/04.
Panathinaikos menawarinya gaji 400 ribu euro setahun, tapi Nikopolidis merasa itu tidak cukup menghargai kontribusinya sejak 1989. Manajemen klub membekukannya dari tim utama. Suporter sempat membelanya, tapi kemudian marah setelah tahu Nikopolidis ternyata sudah memiliki kesepakatan dengan musuh Panathinaikos di derby of the eternal enemies, Olympiakos.
Kemarahan dan kekecewaan suporter tampak jelas ketika Panathinaikos merayakan kesuksesan meraih gelar ganda di akhir musim 2003/04. Ketika Nikopolidis mengangkat piala, teriakan dan siulan ejekan harus diterimanya dari tribun penonton. Sampai sekarang, Nikopolidis dianggap sebagai public enemy nomor satu oleh suporter Panathinaikos.
Sementara itu, Kranjcar adalah idola di Dinamo Zagreb. Besar di akademi sepakbolanya, Kranjcar menjadi kapten termuda sepanjang sejarah Dinamo dalam usia 17 tahun. Di awal 2005, Kranjcar berselisih dengan manajemen klub.
Ia memutuskan pindah ke Hajduk Split, musuh besar Dinamo dalam derbi vjeciti. Suporter Dinamo menyalakan 200 lilin di depan rumah Kranjcar sebagai bentuk teror. Tak cukup dengan itu, salah satu agen Kranjcar yang memuluskan transfernya ke Hajduk Split bahkan ditembak mati!
"Saya berselisih dengan Direktur Dinamo. Pelatih lantas membuat saya bermain dengan tim junior. Ketika mendapat hasil buruk, gaji saya dipotong, tapi para direktur tidak mau gajinya ikut dipotong. Saya dipaksa keluar dari Dinamo. Saya memilih Hajduk dan tidak akan pernah menyesalinya, " kata Kranjcar di Sunday Mail.
Masih Tetap Hanya Tiga Poin
AC Milan pada musim 2000/01. Ini bukan musim yang bagus untuk I Rossoneri. Penampilan Il Diavolo, yang kala itu dilatih Alberto Zaccheroni, terbilang sangat mengecewakan.
Mereka gagal lolos dari fase grup kedua Liga Champion setelah tak mampu mengalahkan Deportivo La Coruna di kandang sendiri. Zaccheroni dipecat dan digantikan ayah kandung Paolo Maldini, Cesare.
Maldini senior dibebani target finis di peringkat keempat, yang akan meloloskan Milan lagi ke Liga Champion. Dia gagal. Tim Merah-Hitam hanya finis di peringkat keenam.
Namun, tifosi Milan tidak akan menyebut musim 2000/01 sebagai bencana total. Pasalnya pada 11 Mei 2001, I Rossoneri mampu mengalahkan Inter dalam derby della Madonnina dengan skor sangat telak 6-0!
Anda tahu Gianni Comandini? Dia bukan pemain top. Tapi, coba cari namanya di Wikipedia. Akan ada penjelasan bahwa Comandini adalah pencetak dua dari enam gol Milan ke gawang Inter pada derby Milano 2000/01.
Greatness, no matter how brief, stays with a man (Kejayaan, seberapa pun singkatnya, akan tetap selalu dikenang). Ini komentar coach McGinty dalam film tentang american football, The Replacement, yang saya anggap sebagai salah satu quote terkeren di bidang olahraga.
Quote itu relevan dengan apa yang dialami Milan musim 2000/01 serta semua tim di dunia yang terlibat dalam laga derby. Semua cacat Milan di musim 2000/01 terobati hanya karena kejayaan di satu pertandingan. Comandini menjadi terkenal cuma karena momen selama 20 menit saat ia menjebol gawang Inter pada menit ke-3 dan 19.
Itulah artinya partai derby. Sebuah partai spesial yang tidak bisa digantikan pertandingan lain. Terlalu banyak yang dipertaruhkan dalam sebuah partai derby: dari kebanggaan, harga diri, sampai kemenangan moral yang rasanya seperti orgasme menjadi juara.
Bentrokan di atas lapangan bahkan terkadang sampai menular ke luar lapangan. Sudah sering terjadi derby berkembang menjadi anarki massa karena kekecewaan dan rasa sakit hati sudah dihina lewat kekalahan dalam derby.
Tetap dengan Akal Sehat
Tidak ada yang salah dengan memberlakukan derby sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan secara habis-habisan, baik dari sisi pemain, staf pelatih, pemimpin klub, sampai suporter. Derby memang spesial. Ia memang harus diperlakukan seperti itu.
Sayangnya, terkadang orang sampai lupa diri. Derby tetap hanya sebuah pertandingan sepakbola yang sekadar memperebutkan tiga poin. Suporter yang klubnya menang dalam laga derby akan tidur dengan senyum di bibir. Namun, pada akhirnya, koleksi angka tim favoritnya hanya bertambah tiga.
Berduel habis-habisan memang wajib dalam laga derby, tapi cukup selama 90 menit pertandingan. Emosi harus total ditumpahkan. Namun, begitu laga usai, hati dan kepala sepantasnya kembali dingin.
Menyikapi derby bukan berarti harus meninggalkan akal sehat. Dua teman baik, Marco Materazzi (Inter) dan Gennaro Gattuso (Milan), akan bertempur mati-matian dalam derby della Madonnina Minggu besok. Usai pertandingan itu, keduanya tidak akan alergi untuk makan bersama.
Sepantasnya sikap seperti itu ditiru, terutama oleh suporter, karena mereka tidak memiliki kontrol yang cukup seperti para pemain mempunyai wasit. Suporter perlu mengendalikan diri mereka dalam laga sesensitif derby.
Sungguh memprihatinkan kalau mendengar spirit derby salah diejawantahkan sampai menimbulkan korban yang tidak perlu. Sayangnya, Liga Indonesia kembali mengalami tragedi tersebut baru-baru ini.
Seorang suporter, Dian Rusdiana, tewas setelah dipukuli oknum suporter rival derby klub yang dibelanya. Yang menyedihkan lagi konteks tragedi bukan di tengah pertandingan, tapi hanya kebencian membabi- buta yang mengatasnamakan persaingan dua klub sekota. Derby dibayar nyawa? Itu namanya sudah meninggalkan akal sehat.
Sisi Lain Derby Milan
Interisti di San Siro
Tidak seperti di Liverpool dan Barcelona, derby di kota Milan dimainkan di stadion yang sama. Di sinilah salah satu sisi lain menarik dari perang sekota antara AC Milan dan Internazionale. Penyebutan nama stadion menjadi bagian dari derby.
Kandang Milan dan Inter bernama resmi Stadio Giuseppe Meazza. Namun, Milanisti atau para pendukung Milan lebih suka menyebut nama San Siro untuk arena khusus sepakbola yang mulai dipakai tahun 1926 itu. San Siro adalah nama distrik tempat stadion berkapasitas 82.955 penonton itu berada. San Siro terletak di Milano bagian barat.
Ada apa dengan Giuseppe Meazza? Ia bekas pemain yang pernah berbaju Inter dan Milan. Meazza lebih lama dan sukses bersama I Nerazzurri (1927-1940 dan 1946-1947). Di I Rossoneri, bekas kanan dalam itu hanya bermain selama dua tahun (1940-1942). Atas dasar hal tersebut, Milanisti lebih suka menyebut kandang tim kebanggaan mereka San Siro.
Milanisti lebih suka berkata San Siro, tapi nama tersebut justru dikenal sebagai wilayahnya Interisti, sebutan untuk pendukung Inter. Hal itu ditegaskan oleh Guerin Sportivo pada tahun lalu ketika majalah tersebut mengupas soal derby dan tifosi.
Guerin Sportivo juga menyebut centro citta alias pusat kota sebagai wilayah Interisti, meski tidak sangat dominan. Di sana, jumlah tifosi Juventus, klub yang bermarkas di kota Torino, juga mengimbangi jumlah pendukung Inter dan Milan. Di pusat kota, ada banyak bar khusus Interisti, Milanisti, dan Juventini.
Di centro citta ada salah satu daya tarik utama kota, yakni Duomo di Milano atau Katedral Milan. Di atas katedral yang dibangun tahun 1386 itu ada patung Bunda Maria. Orang-orang di sana menyebutnya Madonnina. Patung itu menjadi simbol Milano. Karena itu, duel Milan kontra Inter juga disebut derby della Madonnina.
Milan dan Inter biasanya menggelar pesta juara di Piazza del Duomo, alun-alun katedral. Perayaan itu menjadi simbol bagi I Rossoneri atau I Nerazzurri sebagai penguasa Milano.
Sesuai Khitah
Internazionale berdiri pada 9 Maret 1908. Klub ini dibentuk setelah beberapa anggota Milan Cricket and Football Club tidak senang melihat terlalu dominannya pemain asal Italia di tim AC Milan. Ingin melihat lebih banyak pemain asing beraksi, sekelompok anggota Milan Cricket and Football Club asal Italia dan Swiss lalu mendirikan Inter.
Sekarang Presiden Massimo Moratti membuat Inter sesuai khitah para pendiri klub. La Beneamata lebih internasional dari Il Diavolo. Di I Nerazzurri hanya ada enam pemain Italia di antara 28 pemain yang mereka miliki. Pelatih juga berasal dari luar negeri, yakni Jose Mourinho (Portugal).
Milan memiliki 13 pemain Italia. Angka tersebut hampir mencapai 50% dari jumlah total anggota skuad I Rossoneri. Warna Negeri Spageti juga lebih terasa di Milan karena ahli strategi klub milik Perdana Menteri Italia, Silvio Berlusconi, ini berasal dari Negeri Piza, yaitu Carlo Ancelotti.
Akan tetapi, derby della Madonnina bukan soal Italia kontra non-Italia. Duel di scala del calcio lebih pada adu kekuatan antara dua tim sepakbola asal satu kota. Duel itu mempertaruhkan harga diri pencinta sepakbola yang sejak kecil telah menentukan pilihan untuk seumur hidupnya: Milan atau Inter.
Derby Merseyside
Friendly Derby
Liverpool kontra Everton disebut-sebut sebagai salah satu derby terpanas. Namun, pertarungan dua klub Merseyside ini awalnya berlabel the friendly derby karena banyaknya keluarga yang memiliki fan Liverpool dan Everton di dalamnya. Suporter kedua tim duduk berdampingan bukan pemandangan aneh.
Alasan lain, markas kedua klub sama-sama terletak di utara kota, terpisah hanya sekitar 1 km, yakni oleh area bernama Stanley Park. Sulit pula menemukan bukti perpecahan dalam hal geografis, politik, atau sosial seperti yang mewarnai banyak derby lokal.
Perbedaan sektarian yang sempat muncul pada era 1950 dan 60-an pun tak sampai memengaruhi basis pendukung. Alhasil, kekerasan antara Liverpudlian dan Evertonian jarang terjadi.
Hubungan yang sempat memburuk kala suporter Everton menuding hooligan Liverpool sebagai biang kerok saat tragedi Heysel, yang berujung hukuman larangan tampil di Eropa untuk klub-klub Inggris, kembali netral kala kedua kubu bergandengan tangan menyusul tragedi Hillsborough.
Namun, derby Merseyside ini boleh jadi tak lagi sebersahabat. Sejak top flight menjadi Premier League, hamparan kartu terlihat saat duel sekota ini. Sebanyak 16 kartu merah keluar sejak 1992/93, kontras dengan catatan empat merah dalam 146 partai sebelumnya.
El Derbi Barcelones
Faktor Sejarah Klub
RCD Espanyol de Barcelona berdiri pada 28 Oktober 1900, setahun setelah Joan Gamper membentuk FC Barcelona (29 November 1899). Apa yang membedakan kedua tim ini?
Soal ketenaran dan prestasi, Espanyol masih menjadi bayang-bayang tetangganya. Namun, pendukung Si Putih-Biru itu punya kebanggaan soal sejarah terbentuknya tim. Bila sejarah terbentuknya Barcelona identik dengan multinasional, Espanyol membanggakan diri sebagai klub yang didirikan murni oleh penggemar sepakbola Catalunya.
Namun, perkembangan kedua klub setelah terjadi perang saudara di Spanyol (1930-an) menjadi pembeda kedua tim. Espanyol adalah satu dari beberapa klub yang mendapat hadiah dari Raja Alfonso XIII guna memakai nama Real dan mahkota kerajaan di logo mereka. Padahal, FC Barcelona bersikeras menentang kekuasaan pemerintah di Madrid.
Setelah Alfonso XIII turun tahta (1931) dan dipaksa meninggalkan istana serta dideklarasikannya Republik Spanyol, Espanyol mencoba menghilangkan kedekatan mereka dengan pemerintah pusat. Nama Real diubah sesuai ejaan Catalan menjadi Reial. Namun, upaya ini hanya mendapat cemooh dari publik Camp Nou setiap terjadi derby.
Catatan el derby Barcelones memunculkan Barcelona sebagai penguasa. Duel menjadi milik Barca dengan 82 kemenangan dan 33 seri dari total 148 duel.
Hanya, tensi derby ini bisa meningkat ketika dalam dua musim sebelumnya, Espanyol sangat berperan mengganjal laju Barcelona menjelang garis finis.

Derby = Harga Diri  

Posted by Rabendra Aldi

Derby! Seberapa penting laga ini dalam perjalanan semusim kompetisi? Johan Cruyff pernah menyindir kebiasaan Barcelona yang nyaris menghabiskan pikiran dan emosinya dalam duel el clasico melawan Real Madrid. Layakkah satu musim kompetisi dikorbankan untuk meraih kepuasan dalam sebuah pertandingan? Tentu sikap ini tak adil bagi mereka yang memilih tertawa di akhir kompetisi. Repotnya, emosi laga bertajuk derby tak semata muncul di lapangan hijau. Selain pengurus klub, kerap kali suporter menjadi pemicu noda. Penyebabnya bermacam-macam, dari persaingan gengsi tim sekota hingga pertarungan keyakinan.
Benarkah derby hanya berlaku untuk duel tim satu daerah? Kita di Tanah Air memang lebih akrab menyebut duel tim sekota sebagai laga derby, seperti AC Milan vs Internazionale, AS Roma vs Lazio, Real Madrid vs Atletico Madrid, Barcelona vs Espanyol, hingga Liverpool vs Everton dan Manchester United vs Manchester City.
Well, pemikiran ini bisa dimentahkan. Tekanan dari berbagai pihak serta peran media massa berandil besar melahirkan berbagai derby. Simaklah kenapa el clasico alias partai klasik di beberapa negara juga berada di panggung derby. Ada berbagai faktor penyebab munculnya rivalitas di kedua kubu.
Sayang, perseteruan abadi kerap diikuti persaingan suporter. Bukan persaingan biasa karena untuk menjaga kebanggaan dan keyakinan yang diwakili klub, mereka rela berjibaku, di dalam dan luar stadion.
Bahkan, akibat efek negatif partai derby yang mencuat tanpa sanggup dikontrol sejak awal, pagelaran rivalitas abadi itu dituding sebagai salah satu penyebab lahirnya holiganisme di sepakbola. Kebrutalan, yang bahkan merenggut nyawa, menjadi noda di sepakbola.
Bagi sekelompok suporter, derby bukan hanya berarti pertandingan, tapi juga menyangkut harga diri dan upaya menjaga agar kepala tetap tegak keluar dari stadion. Keesokan harinya, saat memulai kehidupan, mereka ingin bertemu orang yang mendukung rival klub kesayangan. Karena itu, suporter selalu menuntut kemenangan.
Karena suporter telah memercayakan keyakinan, kebanggaan, hingga harga diri mereka pada para pemain di lapangan, pertandingan derby selalu menyita perhatian, lebih dari laga biasa sepanjang musim.
Bahkan, The Observer berani menyebut duel Boca Juniors dan River Plate di Argentina sebagai pertarungan yang pantas disaksikan pencinta sepakbola di dunia sebelum ajal datang menjemput. Mereka menyebut laga ini sebagai Superclasico!
Akhir pekan ini, dunia sepakbola menggelar sembilan laga derby. Inggris mementaskan Everton vs Liverpool. Dari Spanyol ada Espanyol vs Barcelona, Portugal memainkan Benfica vs Sporting Lisbon, serta tentu saja derby della Madonnina di Italia antara AC Milan vs Inter.
Di belahan Amerika Latin, Brasil memainkan derby pertama sepanjang sejarah sepakbola negara itu. Pertemuan Botafogo vs Fluminense disebut The grandpa Derby. Ada juga The Atletiba dengan aktor utama Coritiba dan Atletico Paranaense. Lalu perseteruan Internacional vs Gremio dijuluki The Gre-Nal.
Rival bebuyutan Brasil, Argentina, juga tak ketinggalan. Estudiantes dan Gimnasia memanggungkan drama berjudul "La Plata Derby".
Partai Derby
Tak Melulu Harus Sekota
Dalam sepakbola, partai berlabel derby pasti ditunggu orang. Duel ini biasanya berlangsung panas karena sarat muatan historis. Bisa jadi akibat lokasi dua kubu yang berdekatan atau latar belakang sektarian, ideologi, dan kelas ekonomi yang berbeda.
Tercatat ada ratusan partai derby di dunia. Setiap negara yang memiliki liga reguler setidaknya punya satu partai derby panas. Bahkan tak jarang sebuah negara mempunyai puluhan pertarungan berskala derby.
Negara-negara di Amerika Selatan, seperti Argentina, Brasil, Cili, dan Uruguay, mengusung tak kurang dari sepuluh derby. Di Asia, Jepang muncul sebagai negara dengan 12 derby. Jumlah ini terbanyak dari kontestan Benua Kuning lainnya.
Bagaimana dengan Eropa? Untuk membahasnya secara mendalam, butuh waktu yang sangat lama. Pasalnya negara semisal Yunani saja memiliki 12 derby. Belum lagi Jerman yang punya 32 partai berstatus derby atau Inggris dengan 92 bentrokan derby mereka.
Banyak? Sangat! Yang pasti akan cukup mengejutkan mengingat selama ini publik cuma mengenal sepersepuluhnya saja. Misalnya Manchester derby antara dua kubu sekota, United versus City, Merseyside derby, yang melibatkan Liverpool dan Everton, atau Arsenal kontra Chelsea di North London derby.
Namun, bisa dipastikan cuma segelintir yang mengetahui keberadaan East Midlands derby antara Nottingham Forest vs Derby County, East Anglian derby alias The Old Farm derby antara Ipswich Town melawan Norwich City, dan laga Portsmouth dan Southampton dalam balutan South Coast derby.
Dari sudut pandang geografis, klub-klub ini tak menghuni satu kota. Meski begitu, publik setempat tetap menyebut pertemuan mereka sebagai derby. Di sinilah kita perlu pemahaman ekstra soal derby. Walaupun tidak berada dalam satu kota atau bahkan dalam satu provinsi atau negara bagian, sebuah laga tetap layak menyandang label derby.
Tekanan yang dialami para pemain, pelatih, pendukung, hingga pemilik klub, dan ditambah bumbu penyedap dari kalangan pers, pada akhirnya menyeret duel yang semula tanpa tajuk khusus menjadi partai berlabel derby.
Imbasnya di Liga Inggris muncul derby of England menyusul duel sengit antara Liverpool versus Man. United. Di Italia ada laga Juventus melawan Internazionale bertajuk derby d'Italia. Di Belanda ada de klassieker yang mempertemukan Ajax Amsterdam dan Feyenoord Rotterdam. Lalu di Spanyol ada el clasico antara Real Madrid kontra Barcelona.
Bahkan rivalitas dua kesebelasan kini tak hanya sebatas yang bernaung di bawah payung sebuah asosiasi. Bentrokan dua negara pun sah untuk disebut sebagai partai derby. Contohnya Iberian derby antara Portugal dan Spanyol atau Football War derby yang disematkan buat laga El Savador melawan Honduras, menyusul perang 100 jam antara kedua negara di tahun 1969 silam.
Lebih dari Sepakbola
Salah satu penyebab derby menjadi pertandingan yang selalu ditunggu-tunggu adalah karena dia tidak lagi sekadar laga sepakbola. Ada isu lain yang ikut melatarbelakangi sejumlah derby top di dunia.
Ada persaingan antara strata masyarakat menengah-atas dan menengah-bawah yang bisa dilihat dalam derby kota terpanas di Spanyol antara Sevilla dan Real Betis. Sevilla mewakili masyarakat kelas atas dan Betis kelas bawah.
Rivalitas antara militer dan polisi rahasia suatu negara juga bisa terjadi dalam beberapa derby. Sebut saja Steaua Bucuresti (klub milik militer) yang bersaing dengan Dinamo Bucuresti (milik Kementerian Dalam Negeri yang membawahi polisi rahasia Rumania). Spartak Moskva dan CSKA Moskva juga masuk dalam kategori ini.
Ada pula derby yang menjadi bayang-bayang persaingan politik. Derby della capitale di Italia melambangkan adu politik antara kelompok sayap kanan (Lazio) dan sayap kiri (Roma).
Derby yang sampai membangkitkan nasionalisme juga tidak sedikit. Duel Al Ahly dan Zamalek di Mesir, yang acap dianggap sebagai derby terbesar di Arab, menjadi perang saudara di mana Al Ahly mewakili nasionalisme Arab dan Zamalek dianggap sebagai legiun asing.
Nasionalisme pula yang membuat Barcelona menggila jika bertemu Real Madrid dalam derby Espana. Barcelona adalah wakil Catalan, yang berjuang menghadapi "penjajahan" pemerintah Spanyol, yang dilambangkan oleh Madrid.
Salah satu latar belakang derby "terparah" barangkali dimiliki oleh Glasgow Celtic dan Glasgow Rangers. Isu persaingan ras dan agama mewarnai duel ini. Celtic adalah pihak Irlandia-Katolik, sedangkan Rangers Skotlandia-Protesta n.
Saat ini isu ras-agama memang sudah tidak terlalu dominan. Tapi, dulu suporter Rangers pernah membakar tiket terusan karena klub membeli pemain Katolik!
Asal-Usul Derby
Tradisi hingga Perang Agama
Di beberapa negara penger-tian local derby adalah pertan-dingan antara dua kubu yang menjadi rival sekota. Amerika Serikat mengenalnya dengan sebutan cross-town rivalry, yang artinya rivalitas antara dua tim di dalam satu kota.
Tapi, tahukah Anda dari mana asal-muasal munculnya kata derby? Ada sejumlah teori tentang hal ini. Sebuah kota di Inggris, Ashbourne, Derbyshire, mengklaim bahwa pertandingan tahunan antara dua penduduk berseberangan di kota itu menginisiasi kata derby.
Namun, ada juga teori yang mengatakan bahwa derby berasal dari ajang pacuan kuda (si kuda harus berusia minimal tiga tahun) The Derby di Inggris. Sang penemu dan penggagas perlombaan pada tahun 1780 itu adalah Earl of Derby Ke-12.
Teori lain lagi mengungkap-kan asal kata derby memang muncul dari kota Derbyshire. Hanya, kata ini hadir melalui pertempuran the traditional Shrovetide football match antara dua sisi kota yang berseberangan. Kota ini terbelah dua, dengan satu tim mengusung Nuns Mill di utara sebagai gawang, sedangkan satu tim lagi memakai Gallows Balk di selatan.
Meski konon sekitar 1.000 pemain untuk satu tim, gol jarang terjadi karena duel sengit banyak mengambil tempat di tengah Sungai Derwent atau daerah Markeaton. Ajang ini menjadi sangat fenomenal karena hampir selalu memakan korban jiwa karena perkelahian secara kontinu.
Entah dari mana asal sesungguhnya, tapi yang jelas pengertian dari kata derby itu sendiri telah meluas ke segala arah. Tolok ukur tak cuma berdasarkan kedekatan lokasi, melainkan sudah terdogma pada rivalitas akibat percikan korek yang semakin membesar menjadi kobaran api.
Para pendukung biasanya mengusung api permusuhan terbesar. Apalagi jika sudah melibatkan barisan suporter ultras. Kendati begitu, di atas lapangan pemain juga kerap mempertunjukan rasa saling benci. Di luar itu semua, tensi di beberapa derby terimbas dari urusan politik dan sektarian alias agama.
Seperti yang terjadi dengan rivalitas abadi Skotlandia bertajuk old firm derby antara dua klub Glasgow, Rangers dan Celtic. Pertemuan rutin empat kali dalam setahun di Liga Premier Skotlandia dilatarbelakangi perbedaan religi, politik, serta kebijakan sosial.
Jika diambil rataan, setiap tahun ada satu korban tewas di Glasgow. Polisi mensinyalir data ini ada kaitannya dengan old firm derby. Terlepas dari permusuhan ini, sisi positifnya, Rangers dan Celtic menjadi dua klub tersukses dengan koleksi gelar terbanyak.
Suporter dalam Derby
Rentan Kerusuhan
Dengan atmosfer derby yang selalu panas, suporter kedua tim yang berlaga sangat rentan menghadapi kerusuhan. Bahkan tidak jarang mereka sendiri yang jadi pemicu aksi anarkistis.
Ambil contoh rivalitas Everton-Liverpool. Dulu derby Merseyside pernah diisi harmoni antara warna biru Everton dan merah Liverpool.
Menyusul Tragedi Hillsborough tahun 1989 yang menewaskan 96 suporter The Reds, rantai syal biru dan merah bisa dilihat sepanjang Stanley Park sebagai dedikasi untuk para korban. Tapi, kini seiring dengan melebarnya kelas prestasi kedua klub, tensi rivalitas suporter Everton dan Liverpool meninggi.
Salah satu rivalitas suporter dalam laga derby yang paling mengkhawatirkan adalah antara River Plate dan Boca Juniors di Argentina. Sebelum dan sesudah pertandingan, banyak kelompok suporter kedua kubu yang memang sudah berniat bertempur.
Suporter Boca menyebut fans River gallinas (ayam) karena mereka menganggap saingannya itu penakut. River membalas dengan memanggil suporter Boca los puercos (babi) karena stadion Boca terletak di daerah yang miskin dan selalu bau seperti kandang babi!
Aksi suporter dalam laga derby terkadang tidak bisa dikendalikan dan mengganggu jalannya pertandingan. Masih ingat bagaimana derby Milano antara Inter dan Milan di Liga Champion 2004/05 dihentikan gara-gara kiper Milan, Dida, dilempar kembang api?
Contoh lain adalah ketika ultras (tifosi garis keras) Roma bisa memaksa menghentikan derby Roma-Lazio tahun 2004 dan memicu kerusuhan besar di luar stadion.
Pada tahun 2005, staf kepelatihan Sevilla dan Real Betis terpancing emosinya dan ikut berkelahi menyusul kejadian pelemparan pelatih Sevilla, Juande Ramos, oleh suporter Real Betis.
Old Firm Derby
Memanas karena Isu Religi
Perebutan status penguasa kota dalam city derbies kerap terjadi dengan didasari persaingan komunitas yang bergesekan di sebuah wilayah padat penduduk. Hal ini bisa dipahami sebagai dinamika manusia sebagai homo ludens alias "manusia yang suka bermain". Beda masalahnya bila faktor agama, yang amat sensitif, sudah ikut dibawa-bawa.
Rangers versus Celtic, misalnya, adalah sebuah manifestasi persaingan warga Glasgow yang menganut Protestan dan Katolik.
Persaingan mereka jelas memiliki akar yang lebih dalam ketimbang local derbies yang membawa rivalitas antargolongan lainnya semodel Madrid kontra Barcelona (di Spanyol), Galatasaray lawan Fernerbahce (Turki), Feyenoord dengan Ajax (Belanda), Panathinaikos versus Olympiakos (Yunani), atau permusuhan Dinamo Zabreb-Hajduk Split (Kroasia).
Secara tradisi, Rangers didukung golongan Protestan di Glasgow, sedangkan Celtic dianggap mengusung bendera kaum Katolik. Pengasosiasian Celtic dengan penganut Katolik juga tidak lepas dari banyaknya pendukung The Bhoys yang berdarah Irlandia, tepatnya Irlandia Utara.
Kondisi ini bertambah rumit karena sempalan pendukung Celtic, yang berbasis politik pro Irlandia, juga terbagi dua lagi menjadi kelompok loyalis dan republikan.
So, tidak mengherankan juga bila sejarah kekerasan antarpendukung Gers dan Bhoys kerap berakhir dengan pertikaian berdarah yang membuat nyawa melayang. Untuk meredam pertikaian yang berawal sejak 1888 dan memanas pada 1912 ini, berbagai jalan telah diambil oleh manajemen kedua kubu.
Proses rekonsiliasi paling ekstrem adalah dengan memperlihatkan adanya penyatuan dua kubu agama dalam sebuah klub. Rangers sempat membeli striker Maurice Johnston, yang beragama Katolik, dari Nantes pada Juli 1989.
Meski Johnston bukan pemain Katolik pertama yang dibeli Rangers, fakta bahwa dirinya sempat bermain di Celtic lima tahun sebelumnya membuat usaha menyatukan duo Glasgow itu kian terasa.
UEFA Turut Belajar
Kedua kubu mau tak mau harus mengakui amat sulit menghapus permusuhan para pendukung yang dilandasi sektarianisme itu.
Lewat diberlakukannya sejumlah peraturan menyangkut larangan menyanyikan lagu-lagu tertentu, pengibaran atribut serta bendera yang tak berkaitan dengan sepakbola, pertumpahan darah dalam derby ini kian berkurang.
Secara total, kedua kubu telah berjumpa 381 kali di ajang Liga Skotlandia, Piala Skotlandia, dan Piala Liga. Dari jumlah itu, 152 dimenangi Rangers, 137 dimenangi Celtic dan sisanya berakhir imbang. Luka yang dibawa dari tiap perseteruan ini kerap berdampak panjang hingga penentuan gelar di akhir musim.
UEFA pun banyak belajar untuk meredam aroma permusuhan yang dikobarkan pendukung tiap kali Gers menjamu klub-klub Spanyol, yang berbasiskan Katolik, di ajang antarklub Eropa. Sepakbola seharusnya semata membawa semangat olahraga tanpa melibatkan masalah SARA, tapi realitas di lapangan berbicara lain.
El Clasico
Rivalitas sejak Awal
Dari awal bergulirnya kompetisi La Liga Spanyol, rivalitas antara Real Madrid dan Barcelona sudah terbentuk dengan sendirinya. Ini karena kedua tim merepresentasikan Castile dan Catalonia, dua wilayah yang memang memiliki unsur kuat dalam sepakbola.
Akan tetapi, seiring berjalan-nya waktu, kadar rivalitas ini kian membengkak ke skala raksasa. Faktor kultur, sosiologi, dan politik seolah memaksa kedua kubu menapaki jalan berlainan.
Madrid pusat pemerintahan Tanah Matador dan rumah keluarga kerajaan. Itu menyebabkan seisi kota seperti terseret ke dalam pemikiran sentralisme. Di sisi lain, ide-ide yang mulai terbentuk pada era modern, semisal republikanisme, federalisme, anarkisme, sindikalisme, dan komunisme, tampak menguat di region Catalonia, terutama Barcelona.
Budaya fesyen baru, dalam bentuk pakaian, rumah mode, filosofi, dan seni, biasanya juga masuk lewat Barcelona, sebelum akhirnya diterima kalangan luas Spanyol. Nah, semasa kepemimpinan Jenderal Francisco Franco, segala rupa identitas kedaerahan dikungkung.
Perang saudara kemudian muncul di medio 1930-an. Sebagai imbas, Josep Sunyol, pengacara, jurnalis, politikus, yang juga menjadi El Presidente Barca, diculik dan dieksekusi tentara Franco sepulangnya dari medan perang. Perselisihan pun kian meruncing. Kata damai hanya diyakini oleh mereka yang gemar berhalusinasi.
Pada dekade 50-an, Madrid dan Barca terlibat perebutan Alfredo Di Stefano, bintang Argentina yang pindah menjadi warga negara Spanyol. Madrid, yang memenangi kontrak atas Di Stefano, berpesta pora menyusul kontribusi optimal sang Argentino, yang menyumbangkan sederet gelar.
Barca, yang berada di kubu kalah, hanya bisa menyimpan dendam. Hingga detik ini, Blaugrana mencoba melampiaskan revans. Tak lagi dalam bentuk perang terbuka, tapi lebih lewat prestasi. Berdasarkan persaingan abadi ini, el clasico dilabeli sebagai duel terpanas sepanjang sejarah sepakbola.
Implikasi sepasang laga itu pada gelar di akhir musim juga menjadi semakin penting. Terbukti pemenang el clasico duel I punya kecenderungan besar menjuarai La Liga musim tersebut.
Derby Fenomenal di Eropa
Korban "Terasa" Wajar
Roma 2004 dan 1979
Kala derby della capitale pada 21 Maret 2004 belum diwarnai gol, beredar rumor seorang anak meninggal tertabrak mobil polisi di luar Olimpico. Atas perintah Presiden Liga, duel dihentikan empat menit memasuki babak kedua. Penghentian itu tak mencegah pertarungan antarsuporter dan antara tifosi dengan polisi huru-hara dengan kobaran api di tribun. Sebanyak 13 orang ditahan, 150 polisi cedera.
Pada 1979, seorang tifoso Lazio, Vincenzo Paparelli, terbunuh suar yang mengenai matanya. Benda itu diletupkan fan Roma dari sisi lain stadion.
Belanda 1997 dan 2005
Pertarungan Ajax dan Feyenoord sering diwarnai kekerasan. Kasus terburuk derby bertajuk de klassieker ini terjadi pada 1997. Seorang pendukung Ajax, Carlo Picornie, dipukul hingga tewas oleh fans rival. KNVB menelurkan kebijakan yang lebih ketat untuk menangkal hooliganism.
Toh pada April 2005 di sekitar De Kuip, keributan serius terhampar lagi dan melibatkan polisi. Hooligan Ajax menghancurkan kereta yang membawa mereka hingga memaksa mereka menunggu laga usai. Fan Feyenoord butuh pelampiasan atas kekalahan timnya. Polisi lalu menayangkan rekaman video kerusuhan di televisi nasional untuk mencari hooligan yang bertanggung jawab.
Yunani 1963
Dua musuh abadi, begitu Olympiakos dan Panathinaikos memberi tajuk perseteruan mereka, bukan tanpa alasan. Benturan hampir pasti terjadi di dalam lapangan maupun luar, terutama sejak Liga Alpha Ethniki digelar pada 1959/60.
Hanya dalam tiga edisi setelah musim perdana, derby ini langsung disorot karena penghentian duel diikuti kerusuhan dan prosesi pembakaran di tengah lapangan oleh pendukung! Proses hukum resmi dilibatkan, tapi tak berhasil memenjarakan seorang suporter pun.
Praha 2008
Duel sesama klub ibu kota Rep. Ceska pada 31 Maret 2008, enam pekan sebelum akhir musim, berakhir 1-1. Petasan, suar, dan objek lain bertebaran di udara. Perang sesungguhnya berlangsung antara suporter garis keras dua klub, Slavia dan Sparta, dengan polisi yang sudah bersiaga dengan peralatan lengkap, bahkan sebelum para hooligan meninggalkan lapangan. Derby Praha terburuk sepanjang sejarah ini menimbulkan kerugian sekitar 30 ribu dolar AS plus dua orang cedera dan 26 orang ditahan pihak keamanan.
Stockholm
Liga Swedia mungkin adalah liga kelas dua di Eropa, tapi kekerasan tetap merasuk, terutama di Stockholm. Dua tahun silam, seorang fan IFK Goteborg ditendangi hingga tewas. Pada 2001, seorang pendukung Hammarby cedera parah setelah diserang dengan palang besi.
Tahun ini, kerusuhan kelas berat terjadi saat AIK menjamu Hammarby. Bom-bom molotov yang belum digunakan ditemukan di sekitar stadion. Insiden ini disebut kekerasan terberat dalam sepakbola Swedia.
Sisilia 2007
Korban jiwa tak selalu datang dari pihak suporter. Filippo Raciti, seorang petugas polisi, meninggal tiga jam setelah dilarikan ke rumah sakit karena wajahnya terkena petasan saat derby Sisilia, Catania kontra Palermo.
Ketika itu, polisi berusia 38 tahun ini berusaha meredakan perkelahian teppisti, hooligan Italia. Bentrokan derby pulau mafia ini juga membuat lebih dari 70 orang luka-luka, kebanyakan dari pihak kepolisian. Raciti adalah orang ke-13 yang kehilangan nyawanya di sekitar stadion dalam calcio Italia.
Beograd 1992
Derby pada 22 Maret 1992 ini tanpa korban jiwa, tapi sangat fenomenal. Dalam keadaan normal, pertemuan kedua tim ibu kota Serbia ini diwarnai berbalas lontaran benda atau umpatan. Hari itu, saat Partizan bertandang ke Crvena Zvezda, suporter kedua klub sudah bertikai sebelum laga dimulai.
Yang unik, semuanya bersatu saat pasukan paramiliter Serbia bersiap dengan komandannya, Arkan, mulai berdiri di tribun dan mengedepankan satu musuh bersama, yakni Kroasia, yang memisahkan diri dari Yugoslavia.
Derby di Amerika Latin
Superclasico Nomor Satu
Pada tahun 2004, The Observer merekomendasikan 50 kegiatan olahraga yang harus ditonton sebelum Anda meninggal. Derby di Buenos Aires antara Boca Juniors melawan River Plate berada di posisi pertama.
Superclasico adalah istilah yang dipakai untuk duel Boca Juniors dan River Plate. Istilah itu berasal dari bahasa Spanyol. Clasico bermakna derby. Kata super digunakan karena dua klub asal ibu kota Argentina itu adalah dua klub terpopuler dan tersukses di Negeri Tango.
Gavin Hamilton, editor majalah World Soccer, menyebut rivalitas antara Boca dan River adalah yang paling panas dalam sepakbola di seluruh Amerika Latin. Orang Latin selalu penuh emosi dan energi serta meriah dalam memberikan dukungan. Yang terbaik dari kondisi demikian selalu ada di superclasico.
Beberapa sumber menyebut 70% dari pendukung sepakbola di Argentina adalah suporter Boca atau River. Kedua klub memang layak didukung karena punya prestasi hebat.
Bersama AC Milan, Boca adalah klub paling banyak meraih trofi internasional, yakni 18 gelar. Los Xeneizes di antaranya tiga kali memenangi Piala Interkontinental dan enam kali menjuarai Copa Libertadores. River tercatat sebagai klub paling sering menjuarai liga domestik, yaitu 33 kali.
Dari La Boca
Boca Juniors dan River Plate sama-sama berasal dari La Boca, wilayah miskin di tepi sungai yang membelah kota Buenos Aires, Rio de la Plata. River berdiri tahun 1901, sedangkan Boca 1905.
Konon, para pendiri Boca memilih warna kebesaran klub berdasarkan bendera di kapal yang berikutnya akan lewat. Karena kapal Swedia yang lewat, Boca memilih biru dan kuning sebagai warna kebesaran. Sementara itu, julukan Los Xeneizes berarti Genoese dalam dialek Genoa. Kota pelabuhan di Italia itu adalah asal dari para pendiri Boca.
Kisah River hampir sama. Dalam pertemuan untuk pendirian klub, seseorang peserta melihat kontainer besar merapat di dermaga dengan tulisan The River Plate.
Tahun 1923, River pindah ke distrik yang lebih makmur, Nunez. Tahun 1930-an, River dijuluki Los Millonarios atau para jutawan setelah melakukan beberapa pembelian pemain dengan harga tinggi.
Sejak saat itu, River dikenal sebagai klub untuk kaum menengah ke atas, sedangkan Boca untuk kelompok pekerja. Dengan sebutan seperti itu, superclasico selalu panas dan sering diwarnai keributan. Tragedi Puerta 12 menjadi yang paling tak terlupakan. Setelah duel di kandang River, Estadio Monumental pada 23 Juni 1969, sebanyak 71 pendukung tewas setelah terlibat kerusuhan di pintu 12.
Rivalitas Chivas dan America di Meksiko
Sejarah Kambing dan Elang
Di Meksiko, publik mengenal salah satu duel panas di belahan bumi Barat, partai clasico de clasicos alias derby di atas semua derby. Pelakonnya, Club Deportivo "Chivas" Guadalajara dan Club America. Dua tim dengan sejarah paten di kompetisi utama Liga Meksiko.
Dari 45 musim bergulirnya kompetisi profesional Meksiko, 21 dikuasai America (10) dan Chivas (11 gelar).
America dimiliki oleh Emilio Azcarraga, si empunya Televisa, jaringan multimedia berbahasa Spanyol terbesar. Ia membuat klub yang didirikan tahun 1916 itu sebagai terkaya di Meksiko. Walau begitu, survei publik pada awal 2008 menunjukkan Chivas masih yang terpopuler, America di posisi kedua.
Chivas teguh memainkan pesepakbola asli Meksiko, suatu kebijakan yang sejak 1908 dilakukan untuk menguatkan rasa nasionalisme warga Meksiko. Ramon Ramirez, Javier Aguirre, dan Claudio Suarez adalah nama paten yang besar bersama klub Guadalajara ini.
Jika Las Chivas berarti The Goats, Sang Kambing, America dijuluki Las Aquilas, The Eagles atau Sang Elang. Sejak lama publik percaya bahwa pertarungan ini adalah laga pemain terbaik Meksiko (Chivas) dengan tim pemain asing terbaik (America).
Hal ini tidak lepas dari keputusan bersejarah Presiden America ketika itu, Emillio Azcarraga Milmo, ayah pemilik klub kini. Pada tahun 1960-an, ia royal menggelontorkan uang untuk membeli pemain asing agar dapat bersaing dengan Chivas, tim terkuat era tersebut.
Langkah itu mempunyai dampak negatif di mata publik Meksiko, yang menganggap tindakan Milmo tidak patriotis dan nasionalis. Sampai kini, banyak pihak yang masih antipati dengan Club America.
Kaitan sejarah itulah yang membuat laga ini lebih dari sekadar pertarungan antar-rival. Ditambah atmosfer Stadion Azteca, kandang America yang bisa menampung 105 ribu orang, dan Estadio Jalisco (Chivas, 72 ribu), lengkaplah resep tontonan akbar masyarakat Meksiko, baik yang berdomisili di negaranya sendiri maupun yang tinggal di Amerika Serikat.
Menghakimi Para Yudas
Ada sejumlah pemain yang mempunyai kesempatan membela dua kubu yang berseberangan dalam laga derby. Sayang, kesempatan tersebut malah menjadi kutukan buat sang pemain.
Cap sebagai pengkhianat selalu disematkan pada pemain-pemain yang berpindah kubu. Pengalaman tak mengenakkan sering dialami para Yudas (diambil dari nama Yudas Iskariot si pengkhianat Yesus Kristus) ini.
Sebagai contoh adalah apa yang dialami Luis Figo, Sol Campbell, Antonios Nikopolidis, dan Niko Kranjcar. Figo bermain untuk Barcelona antara 1995-2000. Di musim panas 2000, Figo pindah ke rival Barca dalam derby el classico, Real Madrid.
Ketika pertama kali kembali ke Camp Nou, suporter Barcelona melempar topeng karet kepala babi ke atas lapangan sebagai bentuk penghinaan pada Figo. Suporter Barcelona juga sempat membuat situs AntiFigo.com, yang khusus berisi hinaan untuk "Yudas Figo". Untungnya, Figo tak terpengaruh. Seperti waktu membela Barcelona, ia juga sukses mengangkat prestasi Madrid.
Campbell pernah menjadi kapten sekaligus pemain pujaan suporter Tottenham Hotspur. Pada 2001, ia bermaksud pergi karena ingin bermain di Liga Champion. Alih-alih bergabung ke klub-klub top di luar Inggris, Campbell malah pindah ke rival Spurs dalam derby London Utara, Arsenal.
Suporter Spurs sangat marah karena Campbell pernah berucap tidak akan pernah memakai baju Arsenal. Ketika Campbell pertama kali kembali ke White Hart Lane, ejekan "Yudas" terdengar di seantero stadion. Suporter Spurs juga melempari Campbell serta bus tim Arsenal.
Nikopolidis- Kranjcar
Lain lagi apa yang dialami Nikopolidis. Kiper Yunani saat menjuarai Euro 2004 ini pernah 15 tahun memperkuat Panathinaikos. Ia menjadi pujaan suporter, tapi semua berubah pada musim 2003/04.
Panathinaikos menawarinya gaji 400 ribu euro setahun, tapi Nikopolidis merasa itu tidak cukup menghargai kontribusinya sejak 1989. Manajemen klub membekukannya dari tim utama. Suporter sempat membelanya, tapi kemudian marah setelah tahu Nikopolidis ternyata sudah memiliki kesepakatan dengan musuh Panathinaikos di derby of the eternal enemies, Olympiakos.
Kemarahan dan kekecewaan suporter tampak jelas ketika Panathinaikos merayakan kesuksesan meraih gelar ganda di akhir musim 2003/04. Ketika Nikopolidis mengangkat piala, teriakan dan siulan ejekan harus diterimanya dari tribun penonton. Sampai sekarang, Nikopolidis dianggap sebagai public enemy nomor satu oleh suporter Panathinaikos.
Sementara itu, Kranjcar adalah idola di Dinamo Zagreb. Besar di akademi sepakbolanya, Kranjcar menjadi kapten termuda sepanjang sejarah Dinamo dalam usia 17 tahun. Di awal 2005, Kranjcar berselisih dengan manajemen klub.
Ia memutuskan pindah ke Hajduk Split, musuh besar Dinamo dalam derbi vjeciti. Suporter Dinamo menyalakan 200 lilin di depan rumah Kranjcar sebagai bentuk teror. Tak cukup dengan itu, salah satu agen Kranjcar yang memuluskan transfernya ke Hajduk Split bahkan ditembak mati!
"Saya berselisih dengan Direktur Dinamo. Pelatih lantas membuat saya bermain dengan tim junior. Ketika mendapat hasil buruk, gaji saya dipotong, tapi para direktur tidak mau gajinya ikut dipotong. Saya dipaksa keluar dari Dinamo. Saya memilih Hajduk dan tidak akan pernah menyesalinya, " kata Kranjcar di Sunday Mail.
Masih Tetap Hanya Tiga Poin
AC Milan pada musim 2000/01. Ini bukan musim yang bagus untuk I Rossoneri. Penampilan Il Diavolo, yang kala itu dilatih Alberto Zaccheroni, terbilang sangat mengecewakan.
Mereka gagal lolos dari fase grup kedua Liga Champion setelah tak mampu mengalahkan Deportivo La Coruna di kandang sendiri. Zaccheroni dipecat dan digantikan ayah kandung Paolo Maldini, Cesare.
Maldini senior dibebani target finis di peringkat keempat, yang akan meloloskan Milan lagi ke Liga Champion. Dia gagal. Tim Merah-Hitam hanya finis di peringkat keenam.
Namun, tifosi Milan tidak akan menyebut musim 2000/01 sebagai bencana total. Pasalnya pada 11 Mei 2001, I Rossoneri mampu mengalahkan Inter dalam derby della Madonnina dengan skor sangat telak 6-0!
Anda tahu Gianni Comandini? Dia bukan pemain top. Tapi, coba cari namanya di Wikipedia. Akan ada penjelasan bahwa Comandini adalah pencetak dua dari enam gol Milan ke gawang Inter pada derby Milano 2000/01.
Greatness, no matter how brief, stays with a man (Kejayaan, seberapa pun singkatnya, akan tetap selalu dikenang). Ini komentar coach McGinty dalam film tentang american football, The Replacement, yang saya anggap sebagai salah satu quote terkeren di bidang olahraga.
Quote itu relevan dengan apa yang dialami Milan musim 2000/01 serta semua tim di dunia yang terlibat dalam laga derby. Semua cacat Milan di musim 2000/01 terobati hanya karena kejayaan di satu pertandingan. Comandini menjadi terkenal cuma karena momen selama 20 menit saat ia menjebol gawang Inter pada menit ke-3 dan 19.
Itulah artinya partai derby. Sebuah partai spesial yang tidak bisa digantikan pertandingan lain. Terlalu banyak yang dipertaruhkan dalam sebuah partai derby: dari kebanggaan, harga diri, sampai kemenangan moral yang rasanya seperti orgasme menjadi juara.
Bentrokan di atas lapangan bahkan terkadang sampai menular ke luar lapangan. Sudah sering terjadi derby berkembang menjadi anarki massa karena kekecewaan dan rasa sakit hati sudah dihina lewat kekalahan dalam derby.
Tetap dengan Akal Sehat
Tidak ada yang salah dengan memberlakukan derby sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan secara habis-habisan, baik dari sisi pemain, staf pelatih, pemimpin klub, sampai suporter. Derby memang spesial. Ia memang harus diperlakukan seperti itu.
Sayangnya, terkadang orang sampai lupa diri. Derby tetap hanya sebuah pertandingan sepakbola yang sekadar memperebutkan tiga poin. Suporter yang klubnya menang dalam laga derby akan tidur dengan senyum di bibir. Namun, pada akhirnya, koleksi angka tim favoritnya hanya bertambah tiga.
Berduel habis-habisan memang wajib dalam laga derby, tapi cukup selama 90 menit pertandingan. Emosi harus total ditumpahkan. Namun, begitu laga usai, hati dan kepala sepantasnya kembali dingin.
Menyikapi derby bukan berarti harus meninggalkan akal sehat. Dua teman baik, Marco Materazzi (Inter) dan Gennaro Gattuso (Milan), akan bertempur mati-matian dalam derby della Madonnina Minggu besok. Usai pertandingan itu, keduanya tidak akan alergi untuk makan bersama.
Sepantasnya sikap seperti itu ditiru, terutama oleh suporter, karena mereka tidak memiliki kontrol yang cukup seperti para pemain mempunyai wasit. Suporter perlu mengendalikan diri mereka dalam laga sesensitif derby.
Sungguh memprihatinkan kalau mendengar spirit derby salah diejawantahkan sampai menimbulkan korban yang tidak perlu. Sayangnya, Liga Indonesia kembali mengalami tragedi tersebut baru-baru ini.
Seorang suporter, Dian Rusdiana, tewas setelah dipukuli oknum suporter rival derby klub yang dibelanya. Yang menyedihkan lagi konteks tragedi bukan di tengah pertandingan, tapi hanya kebencian membabi- buta yang mengatasnamakan persaingan dua klub sekota. Derby dibayar nyawa? Itu namanya sudah meninggalkan akal sehat.
Sisi Lain Derby Milan
Interisti di San Siro
Tidak seperti di Liverpool dan Barcelona, derby di kota Milan dimainkan di stadion yang sama. Di sinilah salah satu sisi lain menarik dari perang sekota antara AC Milan dan Internazionale. Penyebutan nama stadion menjadi bagian dari derby.
Kandang Milan dan Inter bernama resmi Stadio Giuseppe Meazza. Namun, Milanisti atau para pendukung Milan lebih suka menyebut nama San Siro untuk arena khusus sepakbola yang mulai dipakai tahun 1926 itu. San Siro adalah nama distrik tempat stadion berkapasitas 82.955 penonton itu berada. San Siro terletak di Milano bagian barat.
Ada apa dengan Giuseppe Meazza? Ia bekas pemain yang pernah berbaju Inter dan Milan. Meazza lebih lama dan sukses bersama I Nerazzurri (1927-1940 dan 1946-1947). Di I Rossoneri, bekas kanan dalam itu hanya bermain selama dua tahun (1940-1942). Atas dasar hal tersebut, Milanisti lebih suka menyebut kandang tim kebanggaan mereka San Siro.
Milanisti lebih suka berkata San Siro, tapi nama tersebut justru dikenal sebagai wilayahnya Interisti, sebutan untuk pendukung Inter. Hal itu ditegaskan oleh Guerin Sportivo pada tahun lalu ketika majalah tersebut mengupas soal derby dan tifosi.
Guerin Sportivo juga menyebut centro citta alias pusat kota sebagai wilayah Interisti, meski tidak sangat dominan. Di sana, jumlah tifosi Juventus, klub yang bermarkas di kota Torino, juga mengimbangi jumlah pendukung Inter dan Milan. Di pusat kota, ada banyak bar khusus Interisti, Milanisti, dan Juventini.
Di centro citta ada salah satu daya tarik utama kota, yakni Duomo di Milano atau Katedral Milan. Di atas katedral yang dibangun tahun 1386 itu ada patung Bunda Maria. Orang-orang di sana menyebutnya Madonnina. Patung itu menjadi simbol Milano. Karena itu, duel Milan kontra Inter juga disebut derby della Madonnina.
Milan dan Inter biasanya menggelar pesta juara di Piazza del Duomo, alun-alun katedral. Perayaan itu menjadi simbol bagi I Rossoneri atau I Nerazzurri sebagai penguasa Milano.
Sesuai Khitah
Internazionale berdiri pada 9 Maret 1908. Klub ini dibentuk setelah beberapa anggota Milan Cricket and Football Club tidak senang melihat terlalu dominannya pemain asal Italia di tim AC Milan. Ingin melihat lebih banyak pemain asing beraksi, sekelompok anggota Milan Cricket and Football Club asal Italia dan Swiss lalu mendirikan Inter.
Sekarang Presiden Massimo Moratti membuat Inter sesuai khitah para pendiri klub. La Beneamata lebih internasional dari Il Diavolo. Di I Nerazzurri hanya ada enam pemain Italia di antara 28 pemain yang mereka miliki. Pelatih juga berasal dari luar negeri, yakni Jose Mourinho (Portugal).
Milan memiliki 13 pemain Italia. Angka tersebut hampir mencapai 50% dari jumlah total anggota skuad I Rossoneri. Warna Negeri Spageti juga lebih terasa di Milan karena ahli strategi klub milik Perdana Menteri Italia, Silvio Berlusconi, ini berasal dari Negeri Piza, yaitu Carlo Ancelotti.
Akan tetapi, derby della Madonnina bukan soal Italia kontra non-Italia. Duel di scala del calcio lebih pada adu kekuatan antara dua tim sepakbola asal satu kota. Duel itu mempertaruhkan harga diri pencinta sepakbola yang sejak kecil telah menentukan pilihan untuk seumur hidupnya: Milan atau Inter.
Derby Merseyside
Friendly Derby
Liverpool kontra Everton disebut-sebut sebagai salah satu derby terpanas. Namun, pertarungan dua klub Merseyside ini awalnya berlabel the friendly derby karena banyaknya keluarga yang memiliki fan Liverpool dan Everton di dalamnya. Suporter kedua tim duduk berdampingan bukan pemandangan aneh.
Alasan lain, markas kedua klub sama-sama terletak di utara kota, terpisah hanya sekitar 1 km, yakni oleh area bernama Stanley Park. Sulit pula menemukan bukti perpecahan dalam hal geografis, politik, atau sosial seperti yang mewarnai banyak derby lokal.
Perbedaan sektarian yang sempat muncul pada era 1950 dan 60-an pun tak sampai memengaruhi basis pendukung. Alhasil, kekerasan antara Liverpudlian dan Evertonian jarang terjadi.
Hubungan yang sempat memburuk kala suporter Everton menuding hooligan Liverpool sebagai biang kerok saat tragedi Heysel, yang berujung hukuman larangan tampil di Eropa untuk klub-klub Inggris, kembali netral kala kedua kubu bergandengan tangan menyusul tragedi Hillsborough.
Namun, derby Merseyside ini boleh jadi tak lagi sebersahabat. Sejak top flight menjadi Premier League, hamparan kartu terlihat saat duel sekota ini. Sebanyak 16 kartu merah keluar sejak 1992/93, kontras dengan catatan empat merah dalam 146 partai sebelumnya.
El Derbi Barcelones
Faktor Sejarah Klub
RCD Espanyol de Barcelona berdiri pada 28 Oktober 1900, setahun setelah Joan Gamper membentuk FC Barcelona (29 November 1899). Apa yang membedakan kedua tim ini?
Soal ketenaran dan prestasi, Espanyol masih menjadi bayang-bayang tetangganya. Namun, pendukung Si Putih-Biru itu punya kebanggaan soal sejarah terbentuknya tim. Bila sejarah terbentuknya Barcelona identik dengan multinasional, Espanyol membanggakan diri sebagai klub yang didirikan murni oleh penggemar sepakbola Catalunya.
Namun, perkembangan kedua klub setelah terjadi perang saudara di Spanyol (1930-an) menjadi pembeda kedua tim. Espanyol adalah satu dari beberapa klub yang mendapat hadiah dari Raja Alfonso XIII guna memakai nama Real dan mahkota kerajaan di logo mereka. Padahal, FC Barcelona bersikeras menentang kekuasaan pemerintah di Madrid.
Setelah Alfonso XIII turun tahta (1931) dan dipaksa meninggalkan istana serta dideklarasikannya Republik Spanyol, Espanyol mencoba menghilangkan kedekatan mereka dengan pemerintah pusat. Nama Real diubah sesuai ejaan Catalan menjadi Reial. Namun, upaya ini hanya mendapat cemooh dari publik Camp Nou setiap terjadi derby.
Catatan el derby Barcelones memunculkan Barcelona sebagai penguasa. Duel menjadi milik Barca dengan 82 kemenangan dan 33 seri dari total 148 duel.
Hanya, tensi derby ini bisa meningkat ketika dalam dua musim sebelumnya, Espanyol sangat berperan mengganjal laju Barcelona menjelang garis finis.

Women do n Man do  

Posted by Rabendra Aldi

281_0

281_1 281_2 281_3 281_4 281_5 281_6 281_7 281_8 281_9

Korean idiot...  

Posted by Rabendra Aldi

Apa Kabar? = Anyong Aseo
Sampai Jumpa = Anyong
Kurang Ajar = Monyong
Tidak Lurus = Men Chong
Pria suka berdandan = Ben Chong
Tiba-tiba = She Khonyong
Mulut = Mon Chong
Sosis = Lap Chong
Suami dari adiknya Papa = Ku Chong
Kiss me = Soon Dhong Yang
Sweet memory = Choo Pang Dhong
Mobil mogok = Dho Rong Dhong
Lapangan luas = Park King Lot
Nasi dibungkus daun pisang = Lon Thong
Cowok Cakep Kaca Mata = Bae Yong Jun
Cowok Cakep Rambut Lurus = Jang Dong Gun
Cowok Cakep Rambut Keriting = Ahn Jung Hwan
Bagian belakang = Bho Khong
Masih muda = brondhong
Buah-buahan = khe dhon dhong
Surga Duniawi = Pu Chong
Toko elektronik = Sung-Hey Wang
Bagian bawah meja = Kho Long
Di kejer2 anjing gila = Tho Long
Cewek cantik rambut lurus = Sung Hye Gyo
Sedang marahan = Tabhok Tabhok Khan
Cewek matre = Khe Lahut Hajah
Jogging sore sore = Ngosh Ngosh Han
Suka bercermin = Chan Thik Khok
Duit ilang = Yah Suh Dha
Komputer rusak = Buh Hang Sahaja
Badan gede = Khing Khong
Rambut Panjang = Ghon Dhrong
Bel = Lohn Cheng
Celana usang = Bho Lhong
Kue Kering = Sem Phrong
Cowo Mata sipit = Park Ji SUng
Jalan2 ke mall = Nghe Cheng

Balikpapan  

Posted by Rabendra Aldi

Lama gak posting neh.. gak ada mood buat nulis... dan juga seminggu terakhir hidup tanpa internet...skrg gw ada di Balikpapan... my 2nd city in my life... yah hujan menyambut kedatangan ku...dengan sangat deras dan sempat tdr kehujanan..atap pada bocor..hahaha... Lebaran sebentar lagi... yah sebentar lagi.. keluarga, sodara2, tante2, sepupu2 tuyul ku pada datangan... (saking banyaknya ampe kebalik2 namanya..).hehehehe... sori sori ya sepupu..om aldi dah tua... kevin aka kepot, farel aka parel, angga, reyhan, yoga, ipan, jahwan, gina... dan yg ada blm dateng... walah... klo dah pada kumpul..neh tuyul2 rame gk karu2an...hahaha....

Di kota ini gw betah bgt, soale ada tv kabel.. bayangin aja... dpt 40 channel dari tv indonesia ampe hbo, cinemax, starsport, starmovie, espn, cnn, disney channel, axn, aljazeera, telkomvision dll cuma bayar 50 ribu sebulan.. dan perlu dicatet.. ini buat 3 TV... Alamak jay...... enaknya... liat2 iklan di TV telivisi berbayar siaran buat olahraga liga italia atau inggris bayar 90rban.. oh my god.... disini gw liat bola tiap hari dah....

Internet pake flash di sini juga lancar... aman..walau gak dapet hsdpa secara stabil..tp buat donlod stabil juga... mngkin blm banyak saingan kayak di neraka bocor (surabaya)..hahaha....

...  

Posted by Rabendra Aldi

AC MILAN

IN

CRISIS

SAVE OUR

MILAN

 

Anak 90an  

Posted by Rabendra Aldi

Sebagai manusia atau anak yg besar dan berkembang pada generasi 90an.. pasti banyak hal2 yg ngangenin.. masih inget gak ama jajanan SD dulu...

Coklat Superman

CokelatSuperman Superman

Coklat ayam

CokelatAyam Bungkus coklat ini terbuat dari kertas putih cap ayam yg alus, dan begitu dibuka, ada sebuah coklat mini yg masih dibungkus aluminium foil itu.Coklatnya empuk-empuk enak gitu pas digigit, terus abis makan ini mendingan jgn kebanyakan senyum ke cewe deh, soalnya di gigi kamu pasti ada coklat-coklat yg masih sisa nempel.

Mie Remezz dan mie laennya...

mieabckejuyi8 AnakMAs

Permen (Bombon : bontang style) Jagoan Neon, Sugus, Pagoda, Mr. Sarmento dll..

unican_jagoan  suguschewycandywy8 20070315150549200607291kc9  permenpayung Sarmento DSCN0111 cocorico Pagodachiclets

Wah..makanan2 90an... ngangenin...

Contributors

Foto saya
Indonesia
A simple man, with simple words to say... A simple life, with a simple way... All I can say, are the simple words... I am just a simple man And live a simple life...

Time

Twitter

Recent Visitor

Traffic